Rabu, 31 Oktober 2012

Day 2 Pulau Leonardo Di Caprio

Maya Bay
Hari kedua kami akan dimanfaatkan untuk tur ke pulau Phi-Phi. Tur ke pulau yang sering dikenal sebagai pulau Leonardo Di Caprio itu tersedia dengan transportasi speedboat maupun kapal besar. Tur dengan speedboat lebih mahal karena tempat yang dikunjungi lebih banyak dan peserta tur lebih sedikit, namun waktu tempuhnya lebih cepat daripada kapal besar. Awalnya aku sempat ragu naik speedboat takut mabuk, tapi dengan pertimbangan jalannya lebih cepat akhirnya aku memilih speedboat. Jemputan ke tur Phi-Phi kira-kira datang jam 8. Kami bangun jam 6, aku dan Nana sengaja nggak mandi, karena hari sebelumnya sudah mandi terlalu malam. :-P Begitu Vivi selesai mandi, kami berjalan ke Seven Eleven dekat penginapan untuk membeli sarapan sekalian top-up pulsa. Aku dan Nana membeli dua croissant seharga 12 THB per biji dan 1 roti kismis seharga 18 THB. Lalu kami kembali ke Sea Blue untuk sarapan, pukul 07.45 kami turun ke lobi untuk menunggu jemputan. 
Ternyata jemputan baru datang pukul 8 lebih 5 menit. Van yang menjemput kami sudah penuh dan hanya menyisakan 5 tempat duduk. Aku memilih duduk di bagian tengah bersebelahan dengan pasangan suami istri asal Indonesia. Nana dan Vivi duduk di belakangku. Kursi belakang sudah dipenuhi serombongan bule yang sepanjang perjalanan terus mengoceh atau bahasa Jawanya epyek. Di bangku depan, ada seorang bule cowok. Setelah menjemput kami, van masih menjemput penumpang lain, yaitu dua orang cowok berwajah Asia Selatan, entah orang India atau Pakistan.
Perjalanan menuju dermaga memakan waktu kira-kira 45 menit. Sampai di dermaga kami diberi benang wol bernama pink sebagai penanda grup. Di dermaga disediakan teh dan kopi untuk dinikmati sembari menunggu masuk speedboat, di dalam speedboat penumpang juga disuguhi air mineral dan minuman ringan. Sebelum masuk kapal, guide kami yang bernama Edi melakukan briefing soal rute dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kemudian kami digiring menuju kapal, sebelum masuk kapal setiap rombongan difoto terlebih dahulu. Sambil menunggu giliran, aku mengobrol dengan Yanti yang berasal dari Bogor. Dia ke Phuket bersama temannya Diana dan dua teman cowok mereka yang aku nggak tahu namanya. Akhirnya kami masuk kapal, karena masuk belakangan, kami hanya kebagian tempat duduk yang tersisa. Aku dan Nana duduk bersebelahan, aku kembali duduk bersebelahan dengan pasangan Indonesia tadi (Icha dan suaminya). Vivi duduk bersebelahan dengan rombongan bule epyek tadi dan Diana. 
Bule-bule itu terdiri dari dua cewek yang kami sebut si bulu mata palsu (heran deh ni cewek mau snorkling pake bulu mata palsu) dan si kacamata besar (karena kacamatanya nggak sinkron dengan mukanya yang mungil), dan lima cowok: si bodong, kolor ijo, kolor oranye, kolor item dan si tinggi. Para kolor ini memakai celana bertuliskan Phuket hanya warnanya yang berbeda, dan ups, celana dalam mereka pun sama. Begitu waktunya berenang para kolor ini langsung memamerkan undies bermerek Bonds. 
Speedboat berjalan pelan ketika sampai di Viking Cave. Di sini penumpang hanya bisa foto-foto dari atas kapal dan tidak bisa turun. Lima belas menit kemudian, kapal kembali berjalan dengan kecepatan lebih cepat. Sampailah kami di Maya Bay yang menjadi lokasi syuting film the Beach yang dibintangi idola masa laluku, Leonardo Di Caprio. Berhubung tamu bulananku datang di waktu yang tidak tepat, aku nggak bisa snorkling atau basah-basahan di pantai. Yo wis, aku hanya foto-foto hingga waktunya kami naik kapal. Tujuan selanjutnya adalah Monkey beach, di sini penumpang bisa memberi semangka pada monyet. Dan, yang nyebelin adalah ketika salah seorang guide memberi salah seekor monyet Coca Cola langsung dari botol. Seharusnya si guide ini memberi contoh yang baik, bukannya menyiksa si monyet. 
Viking Cave


Di sini kami hanya diberi waktu lima belas menit kemudian kami kembali masuk kapal menuju Pileh bay untuk snorkling di tengah laut selama 45 menit. Selama itu aku hanya duduk-duduk di dalam kapal, sementara Nana sempat nyemplung sebentar. Setelah Pileh tujuan selanjutnya adalah makan siang di pulau Phi-phi Don. Menu makan siang prasmanan adalah tom yam nggak pedas, ikan goreng tepung, spaghetti. Rasanya sih biasa banget. 
Selesai makan siang masih ada sisa waktu untuk bersantai di pantai atau melihat-lihat cenderamata. Oh, ya toilet di sini bersih dan gratis pula. Jam setengah satu kapal kembali bergerak, kali ini menuju pulau Khai yang merupakan tujuan terakhir kami. Di pulau kecil berpasir putih dan berkarang ini kami diberi waktu satu setengah jam. Khai sangat kecil, dan tidak ada pemukiman di sini, yang ada biawak. Kami pun hanya duduk-duduk di bebatuan, sebelum tergoda untuk bermain di pantai. Toilet di sini jorok, dan nggak gratis. Untung aku nggak kepengen pipis. Setelah waktu habis, guide memanggil grup kami untuk masuk kapal. Namun, walau sudah diberitahu jam berapa harus kembali ke kapal tetap saja ada yang ngaret. 
Bodong bersaudara termasuk yang ngaret, karena mereka mampir dulu ke bar, terlihat dari minuman yang mereka bawa. Si bulu mata palsu membawa bir, si kacamata besar, kolor item dan bodong membawa pina colada di dalam kapal. Rombongan yang terakhir masuk adalah sekeluarga asal Australia (tapi berwajah Asia Selatan). 

Perjalanan menuju ke dermaga hanya membutuhkan waktu 15 menit. Di dermaga kami kembali dijemput oleh van yang sama dan tentu saja dengan penumpang yang sama pula. Bodong bersaudara kembali menguasai kursi belakang, aku, Nana dan Vivi kali ini duduk sebangku di jok belakang sopir. Dua cowok Asia Selatan duduk di samping sopir. Icha dan suami duduk di belakangku, dan si bule solo traveler tergusur duduk di samping suami Icha. Jika pas berangkat kami mendapat giliran dijemput akhir, saat kembali ke penginapan pun kami kembali diantar akhir. Bodong bersaudara mendapat giliran pertama, kemudian si solo traveler, disusul Icha dan suaminya setelah itu van menurunkan kami di depan Sea Blue. 
Sampai di kamar, kami langsung bergiliran mandi. Setelah badan segar kami mencari makan malam di Banzaan market. Aku dan Vivi membeli sate babi seharga 10 THB/tusuk, Nana membeli bakso ikan. Sambil makan kami mencari makanan lain yang lebih berat. Pilihan Nana jatuh pada bihun yang rasanya super manis, Vivi membeli iga babi sementara aku membeli ayam goreng seharga 30 THB namun sayang nasinya ketan bukan nasi biasa. Lalu kami berjalan kembali ke penginapan untuk makan malam.

Kamis, 25 Oktober 2012

Day 1 Sawadee ka

Pesawat berangkat dari Jakarta tepat waktu, sebelumnya aku sempat khawatir jika pesawat akan mengalami delay seperti sehari sebelumnya dalam penerbangan kami dari Yogyakarta ke Jakarta. Gara-gara ada tamu VVIP di bandara Adi Sucipto, penumpang yang sudah duduk manis di dalam pesawat disuruh kembali ke ruang tunggu dan penerbangan ditunda satu jam. Benar-benar menyebalkan, untung tidak terjadi lagi.
Sampai Phuket tepat waktu, setelah mengisi kartu imigrasi mendapat cap di paspor dan mengambil bagasi, kami  mengambil sim card gratis True Move. Tanpa sempat foto-foto bandara kami keluar dan sudah ditunggu Mr. Puttachat. Setelah mengobrol sebentar dengan Mr. Pu kita diantar ke penginapan oleh sopirnya yg bernama Abubakar. Perjalanan memakan waktu kira-kira 40 menit. Sepanjang perjalanan Abubakar menyetel musik galau Thai kencang-kencang mungkin karena dia merasa terganggu dengan suara berisik kami yang mengoceh dalam bahasa Jawa dan Indonesia. 
Tiba di penginapan kami langsungg check-in, staff Sea Blue yg menerima kami seorang cowok yang tidak ramah. Berhubung kami tidak tahu namanya dan tidak berniat untuk mencari tahu, kami menyebutnya dengan sebutan hyung. Kami diminta mengisi form berisi data diri tamu, lalu si hyung memindai paspor kami. Setelah mengurus pembayaran hyung mengantar kami ke kamar yang terletak di lantai 3. Melihat 3 orang perempuan berpostur mungil yang terengah-engah saat membawa koper, si hyung tetap nggak tergerak untuk membantu. Si hyung langsung kabur setelah menyerahkan kunci. Begitu membuka pintu kamar, kami langsungg terpesona karena kamar kami melebihi harapan kami. Kamar luas tv kabel ada channel V, air mineral gratis. 
Nasi goreng Melayu
Jam setengah sembilan kami turun ke lobi untuk menunggu Mr. Pu, ternyata sampe jam 9 dia belum datang, padahal kami sudah kelaparan. Jam sembilan lewat, si mister baru muncul. Setelah menyelesaikan pembayaran untuk tur ke Phi-Phi dan city tour, kami langsung kabur ke Banzaan market yang berjarak 5 menit jalan kaki dari Sea Blue. Muter-muter pasar, dan bingung mau makan apa. Akhirnya pilihan kami jatuh pada nasi goreng yang tidak pedas seharga 40THB. Si penjual seorang ibu berjilbab yang fasih berbahasa Melayu. Si ibu cerita kalau dia asli Thai, tapi keluarganya tinggal di Malaysia. Dia pindah ke Phuket 2 tahun lalu karena susah mencari pekerjaan di Malaysia. Kami kemudian mencicipi raisin pancake, yang bentuknya mirip martabak telur hanya isinya yang beda. Pilihan isi ada bermacam-macam seperti kismis, pisang, keju dll. Keluar dari Banzaan market kami menuju toko-toko yang menjual kaos dan pakaian renang. Aku dan Vivi sibuk memilih, sementara Nana yang sudah kelaparan asyik makan pancake. Tawar menawar tapi tetap nggak dapat harga murah, akhirnya aku beli satu, sementara Vivi batal beli. Akhirnya kami balik ke hotel untuk menyantap makan malam kami, mandi lalu tidur. Besok waktunya ke pulau Leonardo Di Caprio. Yeay.................

Minggu, 21 Oktober 2012

Persiapan Sebelum ke Thailand


Bulan Oktober adalah bulan yang ku tunggu karena pada bulan ini aku bersama adikku dan teman kita akan terbang ke negeri gajah putih untuk jalan-jalan. Tiket sudah ada di tangan sejak tujuh bulan yang lalu. Walau nggak pernah beruntung mendapat tiket dengan harga ajaib, kita mendapat tiket dengan harga terjangkau.
Urusan tiket beres, selanjutnya kita mulai mencari tempat menginap. Selama di Thailand kita akan menginap di Phuket dan Bangkok. Penginapan di Bangkok sudah kita book sejak April, kita memilih Merlin Lodge karena dekat dengan stasiun BTS Punnawitthi. Pilihan ini atas rekomendasi teman yang sudah pernah menginap di sana. Kita memilih untuk mengambil triple room seharga THB 890/malam. Untuk memesan kamar aku langsung menghubungi surel mereka, respon dari Ken si pemilik hotel sangat cepat. Dan, yang lebih menyenangkan lagi adalah kami tidak perlu uang muka.
Sementara penginapan di Phuket kita book Sea Blue Phuket Guesthouse pada bulan Mei melalui situs resmi mereka yang terhubung dengan Hostelworld. Pilihan kita adalah family room dengan harga THB 621/malam, berbeda dengan Merlin, pemesanan kamar di Sea Blue membutuhkan uang muka senilai 10% dari total biaya kamar. Alasanku dan temanku memilih Sea Blue adalah penginapan ini ala hostel backpacker yang memiliki kamar pribadi berfasilitas hotel (tv, dvd, ac, air panas dan kamar mandi dalam).
Tiket beres, penginapan beres, selanjutnya aku mengurus transportasi di Phuket dan tur di sana. Di Phuket kami memakai jasa Mr. Puttachat dari Cherry Travel untuk jemputan dari bandara, tur ke Phi-Phi dan city tour. Dia ini sangat terkenal di forum kaskus dan female daily karena sering dipakai oleh orang Indonesia. Dua minggu sebelum berangkat aku menghubungi Mr. Puttachat melalui email naranong_2524@hotmail.com setelah dua hari belum dibalas, aku mengirim kembali email dan kali ini langsung dibalas oleh Vinyoo Naranong, yang ternyata adalah istri Mr. Puttachat. Sebelumnya aku menghubungi Ms. Ladda, agen yang juga sering dipakai orang-orang Indonesia. Namun, harga yang ditawarkan Ladda lebih tinggi dari Puttachat. Untuk Bangkok kami akan mengandalkan transportasi umum mereka, yang jelas lebih bagus dan modern daripada Phuket.
Urusan terakhir adalah menukar uang. Ini urusan yang agak susah karena di Jogjakarta stok Bath tidak sebanyak di Jakarta, selain itu nilai tukarnya juga tinggi. Setelah browsing sana sini dan menemukan daftar money changer di Jogjakarta, langkah selanjutnya adalah menelepon untuk menanyakan rate. Rate termahal 350 IDR dan termurah 325 IDR. Akhirnya diputuskan untuk menukar uang di money changer Gajah Mas Mulyasakti di kawasan Malioboro.


Daftar nama dan alamat money changer di Yogyakarta: 
PT Barumun Abadi, Natour Garuda, Jalan Malioboro 60, (0274) 563314 
PT Intan Artha Mataram, Jalan  Malioboro 18, (0274) 563814 
PT Intra Bilex, Kantor Pos Besar I, Jalan Pangeran Senopati 2, Loket 12, (0274) 383406/414860 
PT Alif Internasional, Jalan  Pasar Kembang No 19 
PT Dollar Center, Jalan Pasar Kembang 85-88, (0274) 587648
PT Artamas Buana Jati, Jalan Pangeran Mangkubumi No 4, (0274) 587558 
Defitama Bagus Sejahtera, Jalan Jendral Sudirman 9-11, (0274) 542131 
Dua Sisi Jogja Indah, Jalan Gandekan Lor 17-19, (0274) 515416 
Gajah Mas Mulyosakti, Jalan Jendral A Yani 86A, (0274) 517959 
Haji La Tunrung, Jalan Pasar Kembang 17, (0274) 560429 
Mendut Valasindo, Jalan Pasar Kembang 49, (0274) 582506 
Santana Monikaya, Jalan Pangeran Diponegoro 116/118, (0274) 513873 
Yusuf Khusaini, Jalan Sosrowijayan 72, (0274) 582653. 
Tiga hari sebelum kita berangkat Thailand diterpa badai dan siaga banjir. Peristiwa ini jelas membuat kami was-was dan kecewa sekaligus bingung. Penantian kami selama tujuh bulan terancam gagal pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi. Kami hanya bisa memperbanyak doa dan tetap memantau perkembangan berita. 

Selasa, 24 Mei 2011

Kelaparan di Chinese Garden

Hari ini, Minggu 15 Mei 2011 merupakan hari ketigaku di negeri Singa. Jadwal kunjungan hari ini adalah Chinese Garden. Bangun tidur,mandi terus sarapan roti, dan berjalan kaki menuju stasiun MRT Bugis.

Sampai di stasiun aku dan adikku top-up EZ Link senilai SGD 10. Urusan top-up kelar, kita menuju MRT arah Boon Lay dan turun di stasiun MRT Chinese Garden.

Dari stasiun MRT jalan kaki ke Chinese Garden tidak memerlukan banyak tenaga, saking dekatnya. Untuk masuk kita tidak perlu membayar tiket alias gratis. Tetapi bila hendak masuk tempat tertentu seperti tempat kura-kura atau taman bonsai harus bayar.

Sesuai dengan Chinese Garden adalah taman bergaya China lengkap dengan pagoda, patung filsuf Konfusius bernama Kong Fu tze, dan kolam ikan. Taman bergaya Jepang disebut dengan Japanese Garden.

Meski hari minggu dan gratis, Chinese Garden cukup sepi pengunjung. Di antara para pengunjung tampak segerombolan perempuan berbahasa Jawa yang kemungkinan besar adalah para pahlawan devisa negara kita (TKW). TKW yang kami temui di sana ada dua jenis yang pertama berpakaian biasa jeans dan kaos, sedangkan yang kedua berpakaian penuh gaya ala mbak-mbak karyawati lengkap dengan stocking, highheels dan tas kerja. Selain TKW juga ada warga lokal yang berolahraga mulai dari joging hingga naik turun pagoda yang berlantai 7. Ada juga pasangan yang sedang foto-foto pre-wed.

Tujuan pertama kami adalah pagoda, setelah naik hingga lantai tujuh kami turun dan istirahat di bawah pohon yang terletak di depan pagoda. Perut keroncongan tapi kami tidak menemukan adanya foodcourt atau penjual makanan di Chinese Garden. Hanya ada penjual minuman dan es krim di depan pintu masuk.

Rupanya orang-orang membawa makanan dari luar bila ingin makan siang di Chinese Garden. Itulah mengapa kami selalu berpapasan dengan orang-orang yang menenteng tas plastik berisi makanan. Dalam keadaan lapar kami berkeliling Chinese Garden, sambil berharap menemukan penjual makanan. Tapi ternyata tidak ada penjual makanan satu pun. Berhubung perut sudah tidak mau diajak kompromi kami memutuskan kembali ke stasiun MRT, sambil mampir membeli es krim seharga SGD 1 di depan pintu masuk Chinese Garden.

Sampai di stasiun, ternyata ada minimarket di samping stasiun. Di minimarket itu tersedia mie instan lengkap dengan air panas. Namun, berhubung tidak ada tempat makan dan malas kalau harus balik ke Chinese Garden lagi untuk makan, kami memutuskan meninggalkan Chinese Garden menuju Chinatown, again.

Di Chinatown kami menemukan Hong Lim hawker center. Menu pilihanku kali ini adalah noodle with meat. Walau judulnya meat yang seharusnya daging sapi tapi rasa baksonya babi banget. Habis makan kembali ke Pagoda Street karena temanku dan adiknya mau beli oleh-oleh.

Aku dan adikku memilih untuk duduk manis di taman yang ada di jembatan penghubung. Nggak lama kemudian temanku menyusul bersama adiknya. Setelah bengong (lagi), kami memikirkan destinasi selanjutnya. Dan, destinasi yang terpilih adalah Clarke Quay.

Dari Chinatown ke Clarke Quay tidak perlu berganti jalur, cukup naik yang ke arah Punggol dan turun di stasiun MRT Clarke Quay.

Di Clarke Quay sedang ada bazar, entah itu hanya ada pada hari Minggu atau hari lain ada. Dalam bazar itu ada yang berjualan makanan, pakaian, dan kursi pompa dengan sarung karakter kartun. Aku memutuskan membeli satu kursi dengan karakter Tigger dalam Winnie the Pooh seharga SGD 15.

Sempat melihat-lihat baju-baju ala Korea seharga SGD 15, tapi nggak beli dan sekarang nyesel soalnya di ITC Kuningan harganya bisaRp 200 ribuan. Di Clarke Quay banyak cafe dan bar di sepanjang bantaran sungai.

Setelah berkeliling sebentar dan numpang duduk di salah satu cafe yang kebetulan tutup, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hostel. Dari Clarke Quay kami naik MRT arah Harbourfront dan turun di Outram Park untuk berganti jalur East West Line ke ke Pasir Ris/Changi lalu turun di Bugis.

Sampai di Bugis, sekali lagi kami mampir di Bugis Junction untuk makan malam. Jembatan penghubung di Chinatown dan Bugis Junction secara tidak sengaja menjadi tempat favorit kami.

Menu makan malam kali ini adalah mie rebus seharga SGD 4 di foodcourt. Selain menjual mie kedai itu menjual nasi Padang. Mie rebusnya nggak sesuai keinginan, karena bukan mie Jawa (yang berkuah dan seger) tapi mie dengan kuah kental mirip mie Ongklok khas Wonosobo. Orang-orang biasanya akan berkomentar "jauh-jauh ke luar negeri kok yang dicari makanan Indonesia?" Tapi, jujur aku lebih suka makanan Indonesia, dan memilih beli mie rebus karena ku pikir itu mie rebus ala mie Jawa. Sementara adik temenku, berkali-kali mengatakan ingin makan bakso dan tidak menemukan si penjual bakso.

Setelah perut kenyang, jalan kaki menuju hostel. Sampai hostel langsung mandi, sikat gigi dan berbaring di tempat tidur sambil merem melek karena masih terlalu sore buat tidur, tapi nggak tahu mau ngapain lagi gara-gara kaki sakit. Perjalanan kami penuh dengan berjalan kaki, dari dan ke stasiun MRT. Saat transit di stasiun MRT jarak yang ditempuh juga lumayan panjang. Kira-kira setara dengan kalau transit busway di halte Dukuh Atas atau Semanggi. Lumayan bikin kaki gempor.

Tips buat yang mau mengunjungi Chinese Garden:
1. Jangan lupa membawa makanan, atau mampir dulu ke minimarket di samping stasiun MRT Chinese Garden.
2. Jangan lupa bawa payung atau topi untuk melindungi diri dari sengatan matahari atau hujan saat musim hujan. Kecuali anda memang berniat menggosongkan kulit ya nggak perlu bawa topi atau payung.

Senin, 23 Mei 2011

Bugis, Little India, Chinatown, Marina Bay, Orchard Road: Jalan-jalan Tanpa Tujuan



Hari kedua kami menjadwalkan untuk pergi ke Little India dan Chinatown saja. Kenyataannya, setelah dua tempat itu dikunjungi kami bingung mau ke mana lagi, pada saat membuat jadwal kami berpikir banyak waktu yang terbuang karena kesasar. Ternyata kami tidak kesasar sama sekali. Itu semua karena petunjuk di MRT begitu mudah.

Dari hostel yang terletak di Bugis (menurut sopir taksi yang mengantar kami dari bandara sih tu hostel outside Bugis), kami berjalan kaki menuju Little India. Sebelumnya temenku mencari rute jalan kaki di Streetdirectory. Tujuan kami adalah kuil Veeramakaliamman, setelah ketemu kuil itu kami ingin ke Mustofa Center tapi gak tahu jalan. Akhirnya asal berjalan kaki tanpa arah, dan kemudian memutuskan mencari stasiun MRT terdekat dan menuju tujuan selanjutnya, Chinatown. Tetapi, tak disangka dan tak diduga kami menemukan Mustofa Center. Kami mampir di toko samping Mustofa yang menjual barang-barang 3 for SGD 10 untuk membeli oleh-oleh titipan ibuku.

Urusan oleh-oleh selesai, kami menuju stasiun MRT Farrer Park. Aku dan adikku mau membeli STP (Singapore Tourism Park), kartu yang bisa digunakan untuk naik bus atau MRT khusus untuk turis yang harganya bervariasi mulai dari SGD 8 untuk satu hari, SGD 16 untuk 2 hari dan SGD 24 untuk 3 hari, perlu diketahui kalau kartu itu unlimited artinya bila membeli SGD 8 bisa digunakan selama satu hari saja tapi sepuasnya. Sayangnya kartu itu hanya dijual di stasiun tertentu, dan di Farrer Park tidak tersedia. Si petugas loket memberi tahu kalau kartu itu tersedia di Chinatown tetapi loket hanya sampai jam 11, sementara waktu menunjukkan jam 10 lewat. Kami akhirnya memutuskan membeli EZ Link di loket, karena takut loket sudah tutup saat sampai di Chinatown. Kartu itu seharga SGD 12, dengan rincian SGD 5 deposit dan SGD 7 jumlah yang bisa digunakan. Aku menggunakan kartu itu selama 3 hari dan top-up sekali senilai SGD 10, saat pulang nilai masih tersisa SGD 4.

Urusan kartu selesai, kami langsung menuju MRT arah ke Harbourfront. Setelah melewati 3 stasiun, tibalah kami di stasiun MRT Chinatown. Kami menuju pintu keluar ke arah Pagoda Street, dengan tujuan hawker center yang ada di sana. Ternyata hawker center belum buka, mungkin baru buka sore hari. Akhirnya kami berjalan menuju People dan menemukan tempat makan murah meriah. Nasi ayam Hainam hanya seharga SGD 1.8. Kenyang makan nasi, aku dan adikku beli es krim pake wafer seharga SGD 1. Bingung mau ke mana lagi, akhirnya nongkrong di jembatan penghubung antara Lucky Chinatown dan People's Park Complex. Di jembatan itu ada taman kecil dengan dua gazebo dan tempat duduk.

Setelah bengong lama, akhirnya kita memutuskan pergi ke Marina Bay. Dari stasiun MRT Chinatown kami naik MRT arah Punggol berhenti di Dhoby Ghaut, dan ganti MRT arah Marina Bay. Dhoby Ghaut merupakan stasiun transit, bagi mereka yang mau pindah jalur dari North East Line ke North South Line di sinilah tempatnya. Chinatown ada di North East Line sementara Marina Bay ada di North South Line.

Sampai di stasiun MRT Marina Bay, untuk menuju Marina Bay Sands kami berjalan kaki kira-kira 500 m. Berhubung traveling kami kali ini mengusung tema irit jadi kami tidak naik ke Marina Bay Sands, kami nongkrong di dek sambil menikmati pemandangan di sana. Walau masih siang banyak juga orang yang joging di tempat itu. Ada juga bule paruh baya yang dengan cueknya joging hanya memakai celana pendek mini dan telanjang dada, pemandangan yang cukup mengganggu. Hahahaha............. karena tu bapak gak ada seksi-seksinya. Setelah dua jam, kami memutuskan pergi ke Orchard Road. Untuk menuju Orchard Road naik MRT tidak perlu berganti jalur.

Keluar dari stasiun MRT yang berada di mall Ion, kami beli es krim buat menambah tenaga kali ini pake roti tawar. Setelah itu sebenarnya tujuan kami adalah penjual makanan gorengan ala Korea yang ada di Orchard Road, tapi karena aku lupa letak persisnya jadinya kita malah makan di Lucky Plaza. Kali ini menu pilihanku adalah makanan tidak halal, iga babi kecap seharga SGD 4.5 dan jus jeruk seharga SGD 3 .

Habis makan muter-muter sebentar di Lucky Plaza lalu meluncur ke Bugis naik MRT. Dari stasiun MRT Orchard naik MRT arah Marina Bay turun di City Hall untuk pindah jalur ke East West Line yang arah Pasir Ris atau Changi. Turun di stasiun MRT Bugis, mampir di Bugis Junction beli gorengan ala Korea seharga SGD 7 yang di makan sambil jalan menuju hostel. Mampir duduk bentar di bangku yang ada di Victoria Street dalam perjalanan ke hostel. Gara-gara diliatin sama bapak-bapak as kita duduk sambil menikmati jajanan, kami memutuskan balik ke hostel. Nggak tahu tu bapak kenapa ngeliatin dengan tatapan aneh.

Sampai di hostel mandi, ngobrol bentar dan bobok. Walau sebenarnya gak bisa tidur pules, alias pake acara bangun berkali-kali karena ada aja orang berisik di luar kamar.

Aturan hostel sih jam 10 malam hingga 8 pagi ada larangan berbicara keras-keras, namun kenyataannya orang-orang pada ngobrol kenceng-kenceng seenak udel. Gak peduli jam 12 malam, jam 3 pagi or jam 5 pagi, tetep aja ada orang ngomong.

Kamis, 19 Mei 2011

Kapok Nginep di Hostel


Pertengahan Mei ini, aku dan adikku traveling ke negara tentangga, bersama teman adikku dan adiknya yang berangkat dari Yogyakarta. Aku dan adikku berangkat dari Jakarta.

Waktu beli tiket sebenarnya jadwal penerbangan jam 10 kurang, eh gak tahunya dipindah ke penerbangan jam 11.20. Bete, karena nyampe S'pore jam 3. Padahal udah pake acara cuti segala. Sehari sebelum berangkat nyaris membatalkan rencana traveling gara2 sakit dan kecapekan. Sakit bulanan (menstruasi) plus masuk angin mana Rabunya blusukan ke daerah Senen demi bikin artikel. Kamis liputan dalam keadaan gak enak badan, jadinya sepanjang acara ngemut permen jahe biar badan enak.

Jumat alias hari-H, thank God, badan udah waras, pesen taksi buat jam 8. Eh di telepon sama perusahaan taksi kalau tu taksi udah nongol. Berhubung udah siap langsungg cabut ke Soetta. Berhubung jalanan lancar jaya nyampe bandara g nyampe sejam, tp blm bs check in. Nunggu 30 menit buat check-in, setelah beres urusan bagasi dan check-in brunch di bandara.

Jam 11.20 siap mengangkasa. Nyampe Changi jam setengah tigaan, setelah ambil bagasi kita langsung menuju tempat taksi. Gak pake lama kita udah meluncur menuju tempat menginap di Bugis. Gak pake nyasar kita nyampe ABC Hostel dalam waktu kurang dari 30 menit. Ongkos taksi SGD 15. Kita milih taksi karena ogah membuang waktu nyeret2 koper dan nyasar kalau naik MRT atau bus, seperti yang dialami dua teman kita yang udah lebih dulu nyampe hostel naik bus.

Bicara soal hostel, benar-benar nggak cocok buat backpacker gadungan alias backpacker manja kayak kita. Kamar tempat kita menginap seharga SGD 98 untuk 4 malam seorang, tarif bed/hari SGD 24, untuk hari Senin tarifnya SGD 26 karena Selasanya public holiday (Waisyak). Ukuran kamar minimalis sekali, kira-kira ukurannya 2x4 meter. Ada dua tempat tidur tingkat yang ukurannya juga minimalis (gak bisa mbayangin kalau orang yg tingginya 170 cm lebih tidur di situ) dan 4 loker yang nggak ada gemboknya.

Begitu nyampe hostel ganti celana pendek lalu cari makanan ke Bugis Junction. ABC Hostel terletak di Jalan Kubor kalau ke Bugis Junction tinggal jalan kaki kira-kira 500 m. Sebenarnya dari bandara menuju hostel bisa naik bus atau MRT. Kalau naik MRT dari Changi turun di Tanah Merah trs naik yg menuju Jo Koon turun di Bugis.

Balik ke makanan, kita makan mie rebus sapi seharga SGD 4.5 udah sama teh panas (yg bener2 panas). Habis makan tergoda beli gorengan ala Korea 2 tusuk seharga SGD 4.

Habis itu jalan-jalan seputar Bugis sebentar dan berhubung gerimis mengundang kita memutuskan balik ke hostel.

Nyampe hostel, langsung mandi. Di ABC hostel ada 20 kamar (kalau gak salah) dengan isi kamar bervariasi mulai dari 1 org hingga yg plg byk 20 org. Yang paling dekat kamar kita ada 2 kamar mandi dan satu toilet, satu lagi toilet khusus orang berkebutuhan khusus. Ukuran kamar mandi gak kalah minimalis, kira-kira 1x1m. Susah sekali untuk bergerak tanpa menyentuh tembok yang basah padahal ukuran badanku tergolong minimalis alias kurus kering. Toilet ukurannya jauh lebih besar daripada kamar mandi, tapi rada jijay pas masuk karena sampah yg menumpuk.

Sebaiknya kalau mau buang hajat jam 5-6 pagi biar gak ngantre dan kondisi toilet belum "mengerikan" dengan tumpukan sampah, ada tempat sampah tapi kecil banget.

Aku secara pribadi gak cocok tinggal di hostel karena harus berbagi kamar mandi dan toilet dengan orang asing. Hostel umumnya memiliki jumlah kamar mandi dan toilet yang minimalis. Dan, setiap kali tanya ke pengelola hostel tentang jumlah kamar mandi dan toilet mrk selalu mengatakan jangan khawatir kita gak perlu antre meski jumlah sedikit sementara tamu banyak. Nah, pengelola ABC tidak menjawab pertanyaan jumlah toilet saat teman saya booking hostel lewat internet.

Buat kamu-kamu yang mau menginap di hostel ini, ada beberapa tips:
1. Jangan lupa bawa colokan kaki tiga, biar bisa nge-charge handphone atau baterai kamera.
2. Kalau dari dan ke Changi menuju hostel ini, bisa menggunakan taksi (buat yang ogah naik MRT). Ongkos taksi dari Changi SGD 15 dibagi dua sama adik jadinya seorang SGD 7.5. Waktu balik ke tanah air menuju bandara kita naik taksi berempat SGD 16.50 karena plus ongkos charge manggil taksi ke hostel. Sebenarnya ada juga bus jemputan dari dan ke bandara menuju hostel dengan tarif SGD7, tapi pada jam-jam tertentu.
3. Sekali lagi lebih baik menggunakan shower room dan toilet jam 5-6 pagi karena keadaan masih bersih.