Selasa, 07 Juni 2016

Serba Babi di Piggylicious

Menemukan masakan babi di Jogja itu gampang-gampang susah. Biasanya sih nemunya di restoran Cina. Buat yang pengin makan babi bercita rasa Indonesia, wajib datang ke Piggylicious. Di sini masakannya serba babi tapi di masak enggak ala Cina. Pilihan masakannya cukup beragam mulai dari bakso, iga bakar, sosis, selad Solo, nasi goreng hingga sup. Untuk harga makanan 25 ribu hingga 140 ribu (terakhir makan di sana Februari 2016, enggak tahu kalau harga sudah berubah). Porsinya lumayan gede, untuk nasi goreng misalnya bisa di makan 2-3 orang. Menu seperti pork belly, B2 pedas Manado (rica-rica) dan B2 pedas sudah satu paket dengan nasi putih.
Iga Bakar

B2 Pedas Manado

B2 Pedas

Selad Solo

Pork Belly

Makanan yang pernah di coba iga bakar, crispy patta, pork belly, B2 pedas Manado, B2 pedas, nasi goreng dan bakso tahu. Semuanya enak terutama crispy patta, iga bakar dan pork belly. Crispy patta ini adalah kaki babi yang di goreng kering jadi kriuk-kriuk waktu di makan. Iga bakarnya disajikan dengan sepotong jagung bakar dan sambal yang entah apa namanya. Pork belly merupakan daging yang diambil dari bagian perut babi dan digoreng tepung. Selain ditemani oleh nasi dalam paketnya pork belly juga disajikan bersama sambal dabu-dabu dan ca kangkung. Rica-ricanya terlalu Manado alias pedes banget bagi lidahku yang sangat Jawa (padahal buat orang Manado belum tentu pedes). Sayang tahu baksonya enggak sesuai harapan, karena rasanya kurang nendang di lidah. Untuk minuman enggak ada yang istimewa.









Piggylicious berada di Jl. Ahmad Zakir No. 2, Kotabaru, Jogja. Dekat sama SMA Bopkri Satu (Bosa). Detailnya lihat aja di Google Maps.


All You Can Eat Shabu-Shabu di Shabu Auce, Jogja

Tempat makan shabu-shabu di Jogja semakin bertambah dengan di bukanya Shabu Auce yang terletak di Jl. Sudirman, Jogja. Tepatnya di perempatan Tugu. Restoran ini pertama kali bukan di Semarang pada 2013. Selain Jogja dan Semarang Shabu Auce juga bisa ditemukan di BSD (Bumi Serpong Damai), Tangerang.

Aku sama keluargaku ke sana pas soft opening pada Februari 2016, jadi masih harga promo. Konsep restoran ini adalah all you can eat alias makan sepuasnya. Setiap orang bebas menentukan kuah sesuai keinginannya, karena disediakan kompor dan panci untuk masing-masing. Jadi enggak kayak di XO, kita makan shabu-shabu ramai-ramai dengan dua pilihan kuah. Kalau di Shabu Auce, setiap orang hanya bisa memilih satu kuah.


Untuk kuah pilihannya ada kaldu sapi, tom yam, kari dan Sechuan. Aku memilih kuah ala Sechuan. Sayangnya, rasa MSG dalam kuah ini kenceng banget jadi aku enggak suka. Pembeli bebas mengambil sendiri makanan yang ingin dimasukkan ke dalam kuah. Pilihannya ada daging sapi, ayam, kambing, ikan, udang, sayurang, aneka bakso, sosis, dll. Nasi putih di sediakan gratis, boleh ambil sendiri sesuka hati. Ada juga udon buat fans mie. Untuk dessert bisa memilih puding atau es krim berbagai rasa ada juga kue- kue manis. Pilihan minuman gratis ada wedang ronde, teh, air putih dan alang-alang. 


Rabu, 25 Mei 2016

Bonchon Jogja City Mall

Tertarik nyoba Bonchon gara-gara kakak bilang ayamnya organik. Maklumlah sebagai chicken lover aku bukan penggemar ayam broiler yang kebanyakan suntik dan lebih suka ayam kampung. Ayam Bonchon memang bukan ayam kampung tapi dengan embel-embel organik semestinya enggak pakai suntik hormon ala ayam broiler biasa.
Bonchon adalah restoran cepat saji yang menyajikan masakan Korea. Menu andalan mereka adalah ayam goreng. Di Jogja, Bonchon ada di Jogja City Mall, ground floor unit 2.1. Restoran ini memiliki dua lantai dengan paduan dinding warna gelap dan kayu. Untuk tempat duduk bisa memilih kursi kayu atau sofa. Aku dan adikku ke sana pada bulan Februari 2016. Udah agak lama sih, jadi mungkin ada perubahan harga atau menu jika dibandingkan dengan saat tulisan dimuat.
Kita memesan udon toppoki sauce, udon shrimp special, mineral water dan bites regular original. Udon toppoki sauce ini adalah udon goreng yang disajikan  saus toppoki. Walaupun adikku pesannya enggak pedas tapi udon pesanannya terasa agak pedas. Aku pesan udon shrimp special, yaitu udon yang disajikan dengan kuah pedas dan tempura udang. Rasanya super pedas, sampai enggak habis makannya gara-gara kepedesan. My bad, kepedean pesan pedas. Untuk bites regular original adalah filet ayam goreng tepung dengan pilihan saus (sorry lupa apa aja pilihannya). Aku pesan yang original, rasanya MSG banget. Biasa di rumah enggak pernah makan MSG, jadi sensitif banget sama rasanya.
Udon shrimp special.
Udon Toppoki Sauce

Bites Reguler Original

Total biaya yang kami keluarkan untuk makan siang di Bonchon adalah IDR 98.500. Lumayan mahal ya, tapi untuk ukuran harga makanan di mall ya standar lah. Sebelum makan di situ sebenarnya pernah nyicipin es mochi Bonchon. Tahun 2015 es mochi isi 3 harganya IDR 15.000. Es mocha adalah es krim yang dibungkus tepung beras, jadi mirip mochi tapi isinya bukan kacang hijau tapi es krim vanilla.
Rincian harga:
Udon Shrimp Special IDR 29.091
Udon Toppoki Sauce IDR 25.909

Bites Reguler Original IDR20.000
Mineral Water @IDR 7.273

Sabtu, 17 Oktober 2015

Music I Like, From Folk To Mainstream

Currently I’m listening to these guys. And, it’s a coincidence if all of them are British. IMO British musician is better than American. Beberapa penyanyi yang aku suka enggak mengusung musik mainstream. Jadi enggak bakal mendengar lagu mereka di radio atau melihat video mereka di MTV or Channel V.

1. Johnny Flynn
Pertama kali menemukan Johnny Flynn waktu lihat teaser film Anne Hathaway berjudul “Song One.” Film yang bercerita tentang seorang cewek yang datang ke New York untuk menjenguk adik laki-lakinya yang koma. Di kota itu ia bertemu dengan seorang penyanyi (diperankan oleh Johnny) yang merupakan idola sang adik. Belum lihat filmnya tapi langsung penasaran sama si Johnny. Akhirnya cari lagu-lagunya di YouTube. Nih cowok muka boleh mainstream alias pin up boy, tapi musiknya jauh banget dari mainstream. Johnny mengusung musik folk dengan lirik yang puitis. Ia juga membentuk band bernama Johnny Flynn and The Sussex Wit. Salah satu anggota bandnya adalah sang adik Lillie.
Lagu favorit: The Water, Bottom of The Sea Blues,


2. Roo Panes
Nemu Roo Panes gara-gara Johnny Flynn. Pas nonton salah satu video Johnny, ada video Roo di video suggestion. So what is their connection? Keduanya sama-sama memanikan musik ber-genre folk dan pernah didapuk sebagai model kampanye Burberry. Roo sendiri mengidolakan Johnny dan terinspirasi olehnya. Ia memberanikan diri untuk mengirim email ke Christopher, CEO Burberry. Emailnya mendapat balasan dan ia terpilih untuk tampil dalam kampanye Autumn/Winter Burberry tahun 2012. Cowok bernama asli Andrew Panes ini menyebut musiknya classical folk. Musik Roo emang enggak easy listening tapi liriknya dalem banget. Lagu-lagu Roo cocok banget didengerin sambil melakukan perjalanan melewati pedesaan atau pemandangan alam.
Lagu Favorit: Open Road, Glory Days, Open Road


     
 3. James Bay
 Berbeda dengan Johnny dan Roo, musik James lebih  easy listening. Nemu James di YouTube pas lihat video Roo Panes Burberry Accoustic. Cowok berambut gondrong yang hobi pake topi  ini juga pernah   tampil dalam Burberry Accoustic. Tapi ia enggak didapuk sebagai model untuk kampanye Burberry. Padahal muka James cocok tuh buat dijadiin model. MTV memasukkan musik James Bay ke kategori rock. Kalau menurutku sih musik James pop rock dengan sentuhan rock klasik. Suara James mengingatkanku pada Eric Martin (Mr. Big).
Lagu favorit: Let It Go, Need The Sun To Break




  4. Ben Howard
Cowok berwajah mirip pesepakbola Uruguay, Diego Forlan, ini mengusung musik yang masuk kategori folk rock, indie rock. Ben pernah meraih Best New Act dan Best Male Act di ajang penghargaan Brit Awards 2012. Ben terkenal dengan gaya bermain gitar yang disebut finger picking. Kalau dalam album Every Kingdom ia asyik memainkan gitar akustik, di album I Forget Where We Were cowok yang punya gaya rambut berantakan ini lebih memilih gitar elektrik. Aku sih lebih suka album pertama Ben daripada album kedua. Pertama kali dengar lagunya Ben yang berjudul I Forget Where We Were, belum terlalu tertarik. Terus coba lihat video Ben nyanyi Conrad  live, mulai tertarik. Habis itu lihat beberapa video live Ben di YouTube, dan akhirnya I fell for this guy. Lagu-lagu di album perdana Ben bikin ketagihan.
Lagu favorit: Only Love, Keep Your Head Up, The Wolves


 5.  George Ezra
Kenal George waktu lihat video Blame It To Me di MTV or Channel V (lupa).
Jangan tertipu dengan wajah imut dan usia George. Begitu mendengarkan suara George saat bernyanyi kita langsung kaget dan enggak percaya kalau itu suara asli George. Suara George mirip sama suara bapak-bapak . George juga dilirik Burberry untuk tampil dalam fashion show mereka. Sebagai penyanyi ya bukan sebagai model.
Lagu Favorit: Budapest



Buat penggemar Johnny, Roo atau Ben don’t forget to say hello to me. Penasaran seberapa banyak orang Indonesia yang mendengarkan musik mereka.

Jumat, 16 Oktober 2015

Soto Sapi


Soto sapi tanpa santan dan tanpa kunyit. Resep ini diperoleh dari nyokap dan asisten rumah tangga di rumah.

Bahan
500 gr daging sapi (has dalam atau sandung lamur)
1,5 liter air
5 lembar daun kol (iris sesuai selera)
100 gr tauge
2 buah wortel (iris bentuk korek api)
2 sdm minyak goreng
1 sdt gula pasir
1 batang kayu manis
7 biji cengkeh

Bumbu Yang Dihaluskan
5 siung bawang putih
5 siung bawang merah
1 sdt merica
1 sdt ketumbar
½ sdt jintan
¼ biji pala
1 ruas jahe
1 sdt garam

Cara Membuat
1.      Rebus daging sapi dalam 1,5 liter air. Sangrai bawang putih, bawang merah, merica, ketumbar, jintan, pala dan jahe, lalu haluskan bersama garam. Tumis bumbu yang dihaluskan hingga matang, kemudian masukkan ke dalam rebusan sapi. Tambah gula pasir bila suka. Setelah kurang lebih 45 menit, matikan api. Angkat daging sapi dan potong sesuai selera.
2.      Rebus daun kol, wortel dan tauge. Setelah matang taruh di piring saji.

3.      Sajikan dengan bawang putih goreng, bawang merah goreng, seledri, loncang dan perkedel.

Bistik Babi



Resep hasil eksperimen yang ternyata berhasil.

Bahan
300 gr daging babi has dalam (cincang atau giling)
1 sdt merica bubuk
1 sdt garam
1 sdt kecap asin
1 sdm kecap Inggris
1 sdm minyak wijen
3 sdm tepung terigu
Minyak goreng

Bahan Saus
3 siung bawang putih
1 siung bawang bombai (cincang kasar)
¼ biji pala
2 sdm kecap manis
1 sdm saus tomat
1 sdt garam
2 sdm minyak goreng
200 ml air

Cara Membuat
1.   Campur daging babi dengan merica, garam, kecap asin, kecap Inggris dan minyak wijen. Tambahkan tepung terigu, aduk hingga rata. Bentuk bola-bola kecil. lalu goreng hingga kecoklatan. Taruh bola-bola daging di piring saji.
2.   Haluskan bawang putih, garam dan pala. Siapkan wajan tuang minyak goreng. Tumis bawang putih, garam dan pala yang sudah dihaluskan. Masukkan bawang bombai. Setelah harum tambah air. Tunggu hingga mendidih lalu masukkan kecap. Cicipi jika merasa kurang mantap. Setelah matang, matikan kompor.

3.  Siram bola-bola daging dengan saus Inggris. Sajikan dengan sayuran seperti selada, mentimun, wortel dan buncis. Bila suka bisa dimakan dengan kentang goreng.

Jumat, 14 Desember 2012

Day 4 Muter-Muter Nggak Jelas dan Ditelantarkan di Phuket

Pada hari terakhir kami di pulau Phuket kami akan keliling Phuket untuk melihat obyek wisata yang ada di sana. Kami akan dijemput jam 11 untuk city tour sekalian diantar ke terminal bus Phuket. Hari ini akan bergabung dengan Yanti dkk, karena mereka juga akan naik bus yang sama menuju Bangkok. Seharusnya sih untuk city tour 3 orang selama 5 jam kami membayar 1200 THB, jadi ketika Mr. Pu ngomong kalau kami bakal digabung dengan Yanti dkk aku langsung protes minta penurunan harga tapi dia tetep nggak kasih. Huh bete, aku pake jasa Mr. Pu karena dia direkomendasikan di forum Female Daily dan Kaskus tapi kenyataannya dia hanya seorang pedagang yang cari untung. Dia nggak sebaik yang dikatakan pemakai jasa di forum.
Sebelum dijemput kami beres-beres kamar, dan sarapan roti. Jam 10.30 kami turun untuk check out, menitipkan koper di lobi lalu mencari makan siang di dekat Sea Blue. Menu makan siangku kembali nasi goreng  dan kali ini ditemani teh manis panas. Nana pesan nasi goreng sayur, Vivi pesan mie rebus. Selesai makan kami kembali ke Sea Blue, jam sudah menunjuk ke angka 11 tapi jemputan belum datang. Beberapa menit kemudian Mr. Pu menelepon untuk memberitahu 5 menit lagi jemputan datang. Ternyata di luar hujan turun, walau nggak deras.
Sebenarnya berdasarkan ramalan cuaca, September dan Oktober merupakan bulan terbasah. Untungnya selama di sana cuma sekali mengalami gerimis dan hujan yang tidak begitu deras. Jam 11 lebih 15 menit, jemputan datang. Penjemput kami bukan Mr. Pu atau Abubakar, tapi sopir yang nama depannya diawali dengan huruf P (nggak ingat namanya). Saat tiba di bandara Phuket kami dijemput menggunakan Avanza, sekarang kami dijemput dengan Toyota Commuter. Jenis mobil yang sama dengan yang mengantar jemput kami ke dermaga waktu tur Phi-Phi. 
Mobil sudah diisi oleh Yanti dkk, si P mengemudikan mobil melewati pantai Karon, lalu pantai Kata. Sampailah kami di Kata viewpoint, namun karena hujan kami tidak turun dan melanjutkan ke tujuan berikut yaitu Prompthep viewpoint. Sebelum kami turun dari van, P berpesan "If rain you walk quick-quick ya" (maksudnya dia minta kita cepat kembali ke mobil jika hujan turun). Di tempat ini kita bisa melihat pantai-pantai dan laut. Di sini juga terdapat patung gajah dalam berbagai ukuran yang sepertinya digunakan sebagai tempat berdoa. Kami foto-foto selama kira-kira 45 menit sebelum beralih ke tempat lain.
Pemandangan dari Prompthep View Point


Mobil bergerak melewati pantai Rawai dan terus berjalan menuju Big Buddha. Jalan menuju obyek wisata yang mirip Garuda Wisnu Kencana di Bali itu sangat curam dan bila hujan sopir sering menolak untuk mengantar ke sana. Untungnya saat itu cuaca terang. Gerimis turun ketika kami sampai di Big Buddha. Obyek wisata ini berupa patung Buddha besar, yang hingga saat ini masih dibangun. Nggak ada yang menarik dari obyek wisata ini, selain pemandangan dari Big Buddha view point. Setelah puas foto-foto, kami menuju obyek wisata berikutnya yaitu Wat Chalong. 




Pemandangan dari Big Buddha View Point
Wat Chalong



Sebenarnya di Wat Chalong ada beberapa kuil, tapi karena cuaca panas kami hanya masuk ke dalam satu kuil. Kuil yang kami masuki memiliki 3 lantai di mana pada setiap lantai berisi patung-patung Budha. Kami kembali ke van, dan P memberitahu tujuan berikutnya adalah toko makanan yang menjual oleh-oleh khas Thailand. Nama toko itu adalah Pronthip Snack, ketika masuk ke toko kami diberi stiker yang menunjukkan bahwa kami satu rombongan, mirip toko oleh-oleh di Bali. Di sini kami nggak lama dan aku hanya membeli abon babi, manisan pala dan snack seafood. Tujuan berikutnya adalah toko baju Madunan, yang katanya mirip Joger di Bali. Jujur aku udah tiga kali ke Bali dan belum pernah ke sana karena nggak tertarik. Jadi sebenarnya bete banget waktu di bawa ke sini. Jadinya aku dan Nana cuma duduk-duduk sementara yang lain belanja. Pemilik toko ini bisa berbahasa Indonesia tapi dengan logat Melayu kental. 
Pembayarannya pun bisa menggunakan mata uang rupiah, dengan nilai tukar 1 THB=300 IDR, lebih murah dari bath yang ku tukar di Jogja. Untuk produknya sendiri kisaran harganya 149 THB, menurutku sih kualitasnya setara dengan baju yang ku beli di MBK seharga 99 THB. Baju yang dibeli di MBK malah sablonannya lebih bagus. Selesai belanja Vivi bergabung dengan aku dan Nana duduk di dekat kasir. Kami mendengar percakapan kasir dan dua orang pembeli yang berbahasa Indonesia. Yah, ketemu orang Indonesia lagi. Salah satu pembeli itu, cowok berkacamata lalu menghampiri Vivi dan bertanya, "Dari Indonesia ya?" Si kacamata ternyata berasal dari Kalimantan. 
Penjual batik made in Indonesia di Phuket Town


Setelah yang lain selesai belanja, kami meneruskan perjalanan menuju Phuket town, P menghentikan van di kota tua. Sepi, itu kesan pertama yang muncul dalam otakku. Kota tua ini memiliki bangunan-bangunan Sino-Portugis, dan itulah daya tariknya. Di Indonesia bangunan-bangunan tua era kolonial dibiarkan terbengkalai atau malah dihancurkan dan dibangun bangunan baru yang bentuknya mirip rumah boneka. Sayang ya, pemerintah kita nggak peduli pada sesuatu yang sebenarnya bisa menambah nilai jual pariwisata Indonesia. Ok, cukup ceramahnya mari kita lanjut ke Phuket town. 
Kami berputar-putar di sekitar Thalang road sambil foto-foto. Rombonganku berpisah dengan rombongan Yanti yang entah berjalan sampai kemana. Rombonganku mampir ke Kopitiam Wilai untuk makan malam. Kami kompak memilih makan misoa rebus, tapi isinya berbeda. Aku dan Vivi memilih misoa babi, Nana memilih misoa bakso ikan. Untuk minuman aku dan Nana memilih wedang jahe yang tentu saja nggak pakai gula Jawa tapi rasanya enak, sementara Vivi memilih es asam. Interior restoran ini benar-benar kuno meja, kursi, lemari, dan rantang yang dipajang sepertinya sudah tua membuat kami serasa berada dalam setting film Mandarin. Di kota tua ini juga ada perusahaan percetakan yang masih menggunakan mesin tua. Thalang road juga memiliki penginapan, cafe, dan toko yang menjual batik made in Indonesia. 
Suasana kota tua
Interior Kopitiam Wilai

Ternyata Phuket old town merupakan akhir dari city tour kami, karena P langsung menurunkan kami di terminal bus. Berhubung masih jam 5, bus kami berangkat jam setengah 7, Yanti mengusulkan untuk ke Phuket weekend market, namun P menolak dengan alasan jauh. Saat kami minta diantar ke Big C, P kembali menolak kali ini dengan alasan waktu sudah habis. Yo wislah dengan tampang super bete kami menurunkan bawaan kami, dan tanpa mengucapkan terima kasih kami masuk ke terminal. Tiket yang kami terima dari Mr. Pu berhuruf Thai, yang membuat kami semakin bingung bus kami berada di mana. Salah satu teman Yanti berinisiatif untuk bertanya kepada salah seorang pegawai bus yang menunjukkan platform tempat bus kami. Berhubung masih jam 5, bus kami belum datang. 
Kami pun terpaksa menunggu di terminal. Phuket memiliki dua terminal bus, untuk perjalanan antarpropinsi menggunakan terminal bus baru sedangkan perjalan jarak dekat menggunakan terminal bus lama. Jarak antara kedua terminal kira-kira 2 km, dan pemerintah menyediakan angkutan yang menghubungkan dua terminal ini. Terminal baru diresmikan 2012, bagian depan terminal terdapat loket tiket berbagai tujuan. Aku menyesal beli tiket lewat Mr. Pu karena harga yang dia minta tidak sesuai dengan yang tertera di tiket, dan bus yang kami tumpangi berkapasitas 36 penumpang bukan 24 seperti permintaan kami. Pelajaran yang kami dapat, beli tiket bus langsung di terminal dan pilih bus vip ac 24 seats milik pemerintah seperti yang direkomendasikan orang-orang di internet.
Di terminal ini juga terdapat minimarket, dan tentu saja toilet. Pengguna toilet harus membayar 3 THB, toilet sih lumayan bersih tapi baunya pesing banget. Jam 6 bus kami datang, kami melapor ke petugas bus yang berseragam dan memasukkan barang ke bagasi. Sebelum dimasukkan bagasi barang-barang diberi label, yah mirip-mirip bagasi pesawat. Nggak tahu di Indonesia sebelum masuk bagasi barang dikasih label dulu nggak.
Bus yang membawa kami dari Phuket ke Bangkok.
Setelah bagasi masuk bus, giliran kami yang masuk. Kami bertujuh mendapat nomor 23, 24, 27, 28, 31, 32, 36. Aku dan Nana duduk di kursi nomor 31 dan 32 sedangkan Vivi di kursi nomor 36 yang berada tepat di belakang kami. Sebenarnya saat memesan tiket lewat Mr. Pu aku udah ngomong kalau kami minta kursi sederet, tapi ya sudahlah. Maklum bahasa Inggris Mr. Pu nggak bagus, kalau ngomong lewat telepon suka bingung maksudnya apa. Seorang bapak kru bus membagi-bagikan snack, air mineral dan jus buah kotak pada setiap penumpang. Si bapak juga meminta kami menunjukkan tiket sambil ngomong pakai bahasa Thai entah apa maunya. Nana sibuk memperhatikan penumpang yang masuk ke bus sambil menebak-nebak siapakah yang beruntung menjadi pendamping Vivi (maksudnya duduk di samping Vivi). Ketika bapak kru bus tadi berjalan bersama seorang bule muda ke arah kami, Nana semakin heboh. Akankah bule yang ku beri nama sleeping ugly (honestly, he's not that ugly) duduk di sebelah Vivi? Ternyata tidak, si bule duduk sederet sama Yanti. Dia duduk di kursi tunggal karena tempat duduk bus ini 2-1 maksudnya 2 kursi dempet dan 1 kursi tunggal. 
Jam 18.30 bus belum menunjukkan tanda mau berangkat. Jam karet, padahal pas baca di blog orang Indo yang pernah naik bus vip (tapi dia naik yang punya pemerintah bukan swasta), bus malam di Thai tepat waktu jadi pas naik bus ini ekspektasiku kalau bus bakal on time tinggi banget. Dua puluh menit kemudian bus bergerak meninggalkan terminal dan Vivi tetap duduk sendiri. Bus memutar musik khas Thai, yang mengingatkan pada musik dangdut atau campursari yang sering diputar sopir bus di Indonesia. Berisik banget, aku udah khawatir kalau sepanjang perjalanan bakal disuguhi musik ini, tapi ternyata tidak. 
Beberapa lama kemudian, bus memutar film-nya Jason Statham yang didubbing pakai bahasa Thai, ya sami mawon nggak mudeng artinya. Bus berhenti sebentar, nggak tahu ngapain, kami duduk di lantai 2 bus jadi nggak ngerti apa yang dilakukan sopir saat berhenti. Bus kembali berjalan dan akhirnya melewati jembatan yang menghubungkan Phuket dengan benua Asia. Ok, this is time to say goodbye to Phuket.